"vibes-nya reflektif, ya."
![]() |
| akankah pelangi mengiringi kepergianku? |
Sepanjang mengerjakan tugas akhir, aku melewati banyak sekali fase dalam hidup, bahkan sepertinya lebih banyak dari saat aku masih aktif berkuliah.
Menjadi (sok) pahlawan lingkungan, contreng.
Menjadi pemerhati produk kecantikan, contreng.
Menjadi kipoper, contreng.
(Sayangnya, aku masih saja belum berada dalam fase jatuh cinta. Untuk ukuran seorang romantika putus asa (terjemahan lepas untuk hopeless romantic), tentunya ini payah banget.)
Aku menemukan banyak sekali hal baru, baik di luar maupun di dalam diri. Seiring aku mengeksplorasi dunia luar, aku menemukan adanya dunia pula di dalam diriku. Dunia yang selama ini tak pernah kusentuh—oh ya, kuyakin selama ini ia selalu ada di sana, bukannya baru saja muncul.
Aku berkenalan dengan diriku yang asing, yang selama ini kuredam keberadaannya. Rupanya, ia bukan makhluk pengganggu; cuma ingin eksis. Maka, kubikin dia eksis.
Aku, yang paham bahwa diriku adalah seorang egois bengis yang tak pantas dikawani, akhirnya pun menemukan kawan.
Aku, yang tak pernah dirayakan atas pencapaiannya kecuali oleh diriku sendiri, akhirnya pun ada yang merayakan.
Rasanya ganjil. Rasa aman dan nyaman terasa aneh buatku yang selama ini hampir tidak pernah merasa aman dan nyaman kecuali dengan diriku sendiri.
Paling mengherankan buatku, saat awalnya kupikir orang akan menolak diriku, rupanya mereka menerima. Dengan tangan terbuka, meski mungkin di dalam kepala mereka tetap bertanya-tanya. Sumpah ya, diterima itu rasanya mengharukan banget loh, men.
Di sisi lain, aku pun menemukan sebentuk aman dan nyaman yang baru dari dalam diriku. Seperti menguar begitu saja, mengutarakan bahwa aku akan baik-baik saja.
Meski mungkin salah, tapi setidaknya untuk saat ini, aku akan berpegang pada itu.

0 Comments