Jumat, 26 Februari 2021

Dicatat sebagai pengingat;
satu titik kehidupan yang pernah kejadian


Hari ini, satu periode pengalaman hidupku menjumpai ujungnya. 

Sekira Agustus 2020, aku mendaftar program magang yang diselenggarakan oleh Narasi. Tawaran kesempatan ini merupakan kerja sama antara Narasi dengan lima universitas di Indonesia, salah satunya kampus tempatku belajar. Kriteria yang dicari adalah mahasiswa semester 5 atau 7, memiliki minat di bidang jurnalistik, komunikatif, dan mau belajar. 

Kalau kalian belum tahu, Narasi adalah media berbasis digital yang dibentuk oleh Najwa Shihab pada 2019. Tidak hanya bergerak di bidang newsroom, Narasi juga punya komunitas, program talkshow, bahkan event-nya sendiri yang bertajuk Playfest.

Narasi memang rutin membuka lowongan bagi siapa pun, bukan hanya mahasiswa, yang ingin berkarir atau berkolaborasi dalam proses-proses kreatif. Karena kerja yang dilakukan adalah kolaborasi, maka mereka yang bergabung akan disebut sebagai kolaborator. Program magang yang kuikuti sendiri bertajuk News Collaborator

Setelah melalui tahapan seleksi dokumen, aku lolos dan bergabung ke dalam tim News Collaborator. Di awal, diadakan sesi pembekalan dan dan pembagian kolaborator ke dalam tiga tim: riset, graphic design, dan video journalist. Kami juga dikelompokkan (mapping) ke dalam beberapa program di bawah bimbingan satu atau beberapa mentor. Kelompok ini nantinya akan diputar selama beberapa kali dalam periode enam bulan magang.

Sesi pembekalan (studium generale) turut dihadiri Najwa Shihab

Ah iya, aku kedapatan tim riset, dan masuk ke program TikTok di mappingan pertama. Untuk mappingan kedua, aku terdampar di program komunitas Narasi yang bernama Mata Kita; sebuah pelabuhan hangat yang memberikan suaka bagi limpahan ide-ide dari jiwa-jiwa haus pengalaman.  

Apa saja yang dilakukan selama magang?

Secara garis besar, News Collaborator bertugas membuat konten sesuai dengan programnya. Tugas diberikan setiap awal pekan dan akan di-review pada akhir minggu. Hal yang unik dari magang News Collaborator Narasi, setiap orang bisa punya pengalaman yang berbeda, tergantung penempatan programnya. Mereka yang berkolaborasi di program nawala bisa saja menceritakan hal yang sama sekali berbeda dari mereka yang berada di program Catatan Najwa, pun seterusnya. 

Di program TikTok, tentu saja tugas kami adalah membuat video TikTok. Tema konten akan ditentukan oleh mentor, biasanya topik yang ringan mengingat keterbatasan durasi. Meski begitu, kadang ada pula konten rangkuman berita sepekan atau breaking news.

Jika konten dari kolaborator dianggap sesuai dengan standar yang telah ditentukan, konten tersebut bisa dinaikkan. Biasanya di media sosial, atau email jika dalam bentuk nawala. Walhasil, wajahku pun nongol di beberapa konten TikTok Narasi :p (agak kurang nyaman sih harus menampilkan muka, tapi begitulah TikTok; bentuk video yang paling mudah dibuat ya berdiri diam dan menunjuk-nunjuk tulisan). 

Lulus dari TikTok, aku dipindahkan ke komunitas. Komunitas Mata Kita adalah satu-satunya tim yang punya program mentoring saban minggu, membahas cara-cara membuat konten supaya ciamik dan berdampak.

Empat bulanku di Komunitas Mata Kita

Buatku, Komunitas Mata Kita adalah ladang lapang yang cocok betul untuk berkembang. Aku dapat banyak ilmu perkontenan serta terjun langsung dalam proses produksinya, mulai dari riset sampai eksekusi. Setiap tugas yang kami kerjakan selalu diberi timbal balik yang konstruktif dari mentor. Ini adalah hal lain yang tidak aku dan kawan-kawanku dapat di mappingan sebelumnya. 

Kalau boleh sedikit bercerita, sejak awal, aku ingin sekali ditempatkan di program nawala—langganan beberapa nawala bikin aku penasaran proses produksi di baliknya. Lagipula, kemampuan utamaku adalah mempoduksi tulisan, makanya aku sedikit kecewa ketika mula-mula harus bergabung di TikTok yang output produksinya adalah audio-visual.

Awal-awal di komunitas, tugasku hanya melakukan riset yang nantinya akan menjadi bahan buat kawan-kawanku tim graphic design dan video journalist membuat konten. Jadi orang di balik layar gitu deh. Tapi, di empat minggu terakhir magang, mentor kami melakukan perubahan pada tugas tim riset; kami sekaligus disuruh membuat nawala. Sungguhan, aku senang sekali dan jadi makin semangat mengerjakan tugas hahaha.

Mentor kami juga terampil sekali dalam mengenali kelebihan kami. Ia selalu mendorong kami untuk memunculkan ciri khas dalam tiap konten. 

Satu kesan yang paling menempel dari masa magangku di Komunitas Mata Kita adalah perasaan dihargai atas pekerjaan yang sudah kulakukan. Meski pada akhirnya hanya satu tulisanku yang berhasil naik, di sana, aku merasa benar-benar bertumbuh. 

Seperti kata Kang Zen—pemred Narasi: "Kita adalah satu dari sedikit media dengan prinsip quality over quantity." Suatu pengalaman yang menyenangkan bisa turut berkolaborasi dalam media yang masih baru, segar dan penuh semangat kemudaan ini. See you another time, orang-orang keren!




0 Comments