Sebuah film berbahasa daerah garapan anak bangsa secara apik mengemas kehidupan penduduk kampung pesisir yang terisolir. Kesuksesannya meraih berbagai penghargaan sempat menjadikan kampung yang menjadi lokasi pengambilan gambar jadi tujuan napak tilas bagi insan yang penasaran. Kini, semua tak bersisa setelah tanah timbul itu terpaksa diratakan karena satu wacana pembangunan.

Salah satu latar gambar yang beberapa kali muncul dalam film Turah karya Wicaksono Wisnu Legowo. Pagar beton putih menandai batas antara pelabuhan nelayan dengan Kampung Tirang yang letaknya terpisah dengan daratan utama.

Tahun 2016, film berjudul Turah yang disutradarai Wicaksono Wisnu Legowo dirilis ke publik. Kendati tak terlalu laris di pasaran, film ini berhasil mewakili Indonesia di ajang bergengsi Oscar 2018, kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Memang hanya sampai tahap nominasi, tapi prestasi ini membuat film Turah semakin dikenal dan banyak dibicarakan.

Sang sutradara yang berasal dari Tegal memilih Kampung Tirang sebagai lokasi syuting film panjang pertamanya itu.  Secara administratif, Kampung Tirang merupakan bagian dari Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat. Namun, secara geografis, kampung nelayan ini letaknya terpisah dari daratan utama.

Ada beberapa akses untuk menyambangi Kampung Tirang, di antaranya adalah melalui Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari atau menyusuri Pantai Muarareja ke arah timur. Saya memilih opsi kedua. Butuh waktu sekitar lima menit melewati warung-warung pinggir pantai sampai akhirnya tampak plang bertuliskan “Pantai Kampung Tirang Tegalsari” dengan latar belakang payung warna-warni. Jaraknya kurang lebih 700 meter dari pintu masuk Pantai Muarareja. 

Plang penanda lokasi Pantai Kampung Tirang Tegalsari yang diinisiasi oleh Kelompok Tirang Jaya. Lokasinya menyambung dengan garis Pantai Muarareja yang telah sejak lama menjadi objek wisata.

Beberapa situs berita lokal menyebut destinasi pantai ini baru dibuka oleh warga setempat dan masih dalam proses mengurus perizinan. Pantainya sepi ketika saya datang di tengah hari. Hanya ada satu warung dan beberapa bangku menghadap ke laut. Berjalan sedikit ke arah selatan, terdapat musala yang menempel dengan sebuah makam keramat, serta rumah dan bale-bale tempat dua orang pria tengah duduk santai. Saya menghampiri mereka untuk memastikan apakah betul ini adalah kampung yang dimaksud.

“Sebenarnya di sini juga udah masuk Kampung Tirang, mbak. Tapi kalau yang buat syuting film, masih harus jalan ke sana,” ujar salah seorang dari mereka sambil menunjuk ke arah galangan kapal nun di timur. Beliau menawarkan diri untuk mengantar sampai ke lokasi. Namun, kami diminta menunggu sampai waktu salat Zuhur tiba.

“Untuk menghormati tetua," begitu penjelasan yang saya dapat.

Pukul satu siang, kami pun beranjak. Saya dan Pak Rawin, nama pria yang mengantar saya, berkendara dengan sepeda motor melewati setapak yang sempit dan berkelok.

Ketika jalanan tanah berakhir dan berganti paving block, mulai tampak deretan kapal nelayan di sebelah kanan dari arah kedatangan. Saya langsung mengenali pagar beton yang melintang membatasi bangunan dengan area perairan. Latar tempat ini cukup banyak muncul di film Turah. Di sini, Pak Rawin menghentikan sepeda motornya dan berkata, “Sudah sampai.”

Saya menengok ke kiri dan menjumpai gundukan tanah lapang. Sejauh mata memandang, hanya terlihat hamparan ilalang. Tidak ada rumah-rumah kayu seperti yang saya saksikan di film.

Melihat tanda tanya di mata saya, Pak Rawin segera menjelaskan, “Dulu memang di sini perkampungannya yang jadi tempat syuting. Sekarang semua rumah sudah dipindah lebih dekat ke area pantai.”

Pak Rawin, juru kunci makam keramat Pandan Kuning Kampung Tirang, menatap hamparan lahan yang tadinya merupakan tempat tinggal sebagian kecil warga. Kala itu, hanya terdapat 12 kepala keluarga (KK) yang bermukim di tanah timbul ini.

Pak Rawin mempersilakan saya untuk mengambil gambar, sementara saya masih bingung objek apa yang harus dipotret. Ekspektasi saya adalah menjumpai jendela rumah yang jadi latar adegan pendataan keluarga Turah oleh petugas untuk keperluan pilkada. Begitu pula rumah keluarga Jadag, pemabuk revolusioner yang kurang strategi dan tak pernah mendapat simpati.

Rupanya, relokasi Kampung Tirang sudah lama dilakukan, tepatnya pada 2017. Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari rencana Pemerintah Daerah Kota Tegal membangun rumah deret untuk nelayan. Delta seluas 10 hektare itu sejak awal memang milik pemerintah kota, sehingga proses pemindahan berjalan mudah tanpa perlu proses pembebasan lahan.

Sejak 2015, wacana pemerintah menjadikan Kampung Tirang sebagai proyek percontohan nasional telah digaungkan. Dilansir dari Medcom, bestek atau gambar kerja pun telah digarap berbekal survei lokasi yang dilakukan tim dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Dari penelusuran lebih lanjut, wacana ini muncul menyusul revisi Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Tegal Tahun 2011-2030 yang menjadikan Kampung Tirang sebagai bakal kawasan pengembangan pelabuhan.

“Kampung Tirang merupakan industri perikanan, bukan pemukiman,” begitu kata Kepala Dinas Pemukiman dan Tata Ruang (Diskimtaru) Kota Tegal kala itu, Nur Effendi, sebagaimana dikutip dari Radar Tegal tertanggal 21 September 2011.

Berita di Kompas.com tanggal 10 November 2018 memuat pernyataan tertulis Menteri PUPR Basuki Hadimuljono yang menyebut bahwa proyek akan rampung akhir tahun 2018. Namun dari penuturan Pak Rawin, belum ada informasi lebih lanjut terkait pemindahan warga Kampung Tirang ke rumah deret nelayan. Sementara itu, di lokasi Kampung Tirang yang lama, satu-satunya konstruksi yang terlihat hanyalah paving block yang entah sejak kapan dipasang, sampai-sampai sudah ditumbuhi rerumput setinggi lutut. 

Kandang kambing milik warga Kampung Tirang yang turut dipindahkan menyusul wacana pembangunan rumah deret nelayan Tegalsari. Proyek ini merupakan percontohan nasional, bersama dengan dua kampung nelayan lainnya yaitu Kampung Beting, Kota Pontianak dan Kampung Sumber Jaya, Kota Bengkulu.

Tak hanya rumah, warga Kampung Tirang juga kehilangan akses mengail ikan di balongan yang secara alami menjadi habitat mujair. Pengelolaan tambak itu kini menjadi tanggung jawab pemkot sebagai pemilik lahan, meski nyatanya dibiarkan tidak terurus. Padahal, sebelum relokasi, banyak pengunjung datang dari kampung-kampung sebelah bahkan luar daerah untuk memancing. Diakui Pak Rawin, balongan ini termasuk salah satu yang cukup populer di kalangan pemancing. Kehadiran mereka sempat membawa napas kehidupan di Kampung Tirang, selain tentunya menambah penghasilan warga setempat.

Setelah relokasi, salah satu upaya warga membangkitkan kembali perekonomian Kampung Tirang adalah dengan membuka wisata Pantai Kampung Tirang Tegalsari. Meski telah dihias dengan apik, pantai ini belum resmi menjadi destinasi wisata, sebab belum mengantongi izin yang diperlukan. Seperti telah saya sebut di atas; plang nama sudah terpasang, dekorasi sudah terpajang, tinggal izin saja yang belum dipegang—atau lebih tepatnya, diberikan.

Dilansir dari Tribunnews, pengajuan pantai ini sebagai destinasi wisata telah dilakukan masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Tirang Jaya sejak awal tahun. “Sebenarnya kalau fasilitas kan sudah lengkap, ada warung, musala. Sudah banyak yang tahu juga, rame kok yang datang. Lumayan lah buat tambah-tambah (penghasilan). Tinggal nunggu izin aja,” kata Pak Rawin.

Pantai Kampung Tirang Tegalsari memang potensial sebagai destinasi wisata baru. Selama kunjungan saya dari siang sampai sore, beberapa muda-mudi tampak datang silih berganti. Kombinasi lokasi yang mojok, irama debur halus ombak, serta semilir angin laut menciptakan suasana tenang nan damai. Karena belum resmi jadi destinasi, Pantai Kampung Tirang Tegalsari juga bebas bea masuk.

Saya jadi membayangkan, kombinasi wisata pantai, pemancingan, dan tur lokasi syuting film seharusnya mampu mengangkat kehidupan perekonomian warga Kampung Tirang yang selama ini hanya berprofesi sebagai nelayan. Mereka bisa membuka warung, menerapkan sewa parkir, dan melakukan usaha-usaha sampingan lainnya.

Cukup disayangkan bahwa relokasi Kampung Tirang tidak sesuai dengan kebutuhan warga. Malahan, mereka hanya dibawa semakin jauh dari perahu dan laut yang menjadi sumber utama penghidupan. Untuk sampai ke galangan kapal saja para nelayan ini harus berjalan memutar, sebab garis pantai yang jadi pemukiman baru mereka bukanlah tempat melepas sauh.

Agaknya tepat jika Wisnu, sang sutradara, menyebut bahwa film Turah terinspirasi dari kehidupan warga di Kampung Tirang. Meski pada kenyataannya warga Kampung Tirang tidak hidup di bawah bayang-bayang kuasa juragan Darso seperti dalam film, namun potret marginalitas yang terpampang nyaris serupa. Mengutip kalimat kritikus film Angga Rulianto dalam ulasannya terhadap film Turah, “Kampung ini benar-benar menjadi tempat buangan dan kumpulan orang-orang terbuang yang dianggap tak cocok dengan laju kehidupan Kota Tegal.

Isolasi geografis tak pelak membatasi ruang gerak dan kesempatan masyarakat untuk berteriak. Semacam ada sekat tak terlihat yang membuatnya lewat dari pemerataan ekonomi dan pembangunan. Kampung Tirang ibarat seorang anak yang diabaikan orang tuanya, dipaksa berdikari tanpa bekal barang sesuap nasi. Bagaimana mau mandiri, jika listrik saja masih mendompleng dari kampung sebelah? Memangnya apa yang bisa diperbuat penduduk dengan rumah kayu semipermanen, yang sejak dulu hanya mengenal laut dan ikan sebagai sumber penghasilan?

Banyak orang sepertinya luput menangkap pesan utama dalam film Turah dan lebih fokus pada euforia kesuksesannya di kancah internasional. Pemerintah Kota Tegal memang layak berbangga atas karya putra daerah yang sukses melanglang buana. Bagaimanapun, sebuah pencapaian sudah sepatutnya dirayakan. Namun, akan lebih baik jika otoritas terkait mampu membaca kritik dan isu sosial yang diangkat dalam sebuah film alih-alih sekadar gembar-gembor unjuk prestasi. Syukur-syukur jika medium film bisa sampai mengubah nasib kaum terisolir yang selama ini tidak punya kekuatan untuk bersuara.

Saya mengakhiri tur dengan menikmati segelas es teh manis di bangku dengan pemandangan laut, rombongan yuyu berkejaran di pasir, serta dekorasi “I Love You” di kejauhan. Mengunjungi daerah pinggiran seperti ini membuka mata saya yang tinggal di tengah kota bahwa banyak kemudahan hidup yang belum terdistribusi secara rata. Masih banyak mulut yang terbungkam dan mata yang terpejam atas nasib kaum marginal, sementara kita tinggal di atas tanah yang sama dengan mereka. 




0 Comments