Sweet Dream, Baby
Gadis berambut sepinggang itu berjalan cepat di depanku, menuntunku ke suatu tempat. Aku terkesima melihatnya untuk pertama kali dan langsung menyukai sosoknya yang penuh energi. Ia cantik, tentu saja. Sangat
Setidaknya di mataku. Kami baru saja berkenalan dan saling berkirim pesan, dan kini ia berjalan cepat menuntunku ke suatu tempat.
Menengok ke sebelah kiri, aku menyadari bahwa kami melewati rumah ibadah. Rumah ibadah-ku, sebab aku tak tahu kepada Tuhan yang mana ia beribadah, meski tampaknya Tuhannya dan Tuhanku bukan sosok yang sama. Aku meminta padanya untuk mampir sebentar, dan tanpa kuduga ia mengangguk dengan ringan. Aku melangkah ke dalam, ia mengekor di belakang. Melihat sosok para jemaat, dan bahasa yang mereka gaungkan berbeda denganku, aku baru sadar bahwa gadis ini membawaku melintasi perbatasan. Selama ini, aku mengobrol dengannya entah melalui kepala atau menggunakan bahasa universal, aku tak begitu memperhatikan sebab oh Tuhan, sosoknya terlalu menyihirku!
Gadis itu kemudian melanjutkan menuntunku ke suatu tempat yang ternyata adalah rumahnya. Aku cukup terkejut ketika mengenali rumah itu tadinya adalah rumah keluargaku sebelum kami pindah menyeberangi perbatasan. Ia menoleh padaku dan tersenyum nakal, seakan sudah mengetahui fakta tersebut dan memang menantikan keterkejutanku. Kini jemarinya yang kurus melingkari pergelangan tanganku, dan menarikku memuju kamarnya. Ia membiarkan pintunya tetap terbuka. Kami mulai mengobrol dan cekikikan bersama di atas ranjangnya yang empuk. Sekali lagi, oh tidak, beribu-ribu kali lagi, matanya yang bersinar bak mentari menyihirku begitu dalam, mengiringi semakin dalamnya percakapan kami, dan seketika aku memohon kepada waktu untuk menghentikan putarannya.
Mendadak ia bangkit dan menuju ke kamar mandi. Tunggu sebentar, begitu katanya, sebelum ia melangkahkan kaki menghilang dari sudut pandangku. Tiba-tiba aku merasakan dorongan untuk menjelajahi rumah ini, rumah-ku sebelumnya. Aku tak tahu apa yang mengarahkanku, tapi aku merasakan kedua tungkaiku mengayun menuju ruang bawah tanah, ruang yang sebelumnya tidak ada saat atap rumah di atas masih menjadi pelindungku setiap hari dari panas dan hujan. Aku bahkan tidak tahu dari mana aku tahu ada ruang bawah tanah di ruang ini. Kurasa aku hanya mengkhayal, tapi ternyata aku sungguhan menemukan ruangan tersebut. Tahu-tahu, aku sudah berada di bawah sana, menatap pilar kayu yang diukir simbol-simbol keagamaan, dan seketika aku mengerti Tuhan mana yang gadis itu sembah. Saat mengeluarkan ponsel dan mengambil gambar pilar itu, aku tidak tahu apa yang kupikirkan atau apa yang mendorongku melakukannya.
Kembali ke kamar gadis itu, yang baru kusadari sekarang bahwa dulunya merupakan kamar-kuku, mendadak aku merasakan panas yang mengganggu, saat melihatnya sudah duduk kembali menungguku. Ia tak bertanya kemana aku pergi, dan hanya berkata bahwa ia ingin mandi. Ya, itu dia. Aku merasa panas sebab aku ingin mengguyurkan air dingin di sekujur tubuhku, aku ingin mandi, sama sepertinya. Aku berkata padanya, bagaimana jika aku pulang ke rumahku untuk mandi dan dia di sini juga melakukan hal yang sama, kemudian aku akan kembali lagi ke sini? Ia mengangguk setuju dengan anggukan paling manis yang pernah aku lihat dari seorang gadis, dan aku berbalik pergi dengan, dengan apa? Aku tidak mengerti apa yang melanda pikiranku saat ini.
Di rumah, aku bertemu dengan Ayah dan Ibu yang menanyakan dari mana saja aku pergi. Apakah selama itu aku tidak berada di rumah sampai mereka merasa harus bertanya? Kukatakan aku pergi ke rumah teman, mereka bertanya teman yang mana? Kujawab teman yang baru saja kukenal dan kutemui, dan tebak pertanyaan apa yang keluar selanjutnya? Tuhan mana yang temanmu itu sembah? Seketika aku membeku dalam aliran udara yang panas membakar, ngeri membayangkan fakta yang akan terkuak seiring dengan lanjutan kalimat-kalimat mereka. Seketika aku teringat simbol-simbol itu, dan kujawab pada mereka bahwa aku tidak tahu. Kedua orang tuaku menampakkan raut muka tidak suka, dan tanpa kusadari Ayah telah merebut ponsel dari tanganku, sementara Ibu terus mencerocos tentang betapa bahayanya berteman dengan orang ber-Tuhan berbeda, dan bagaimana suatu saat orang itu akan menyeretmu ke dalam urusan ketuhanannya sementara kau tidak menyadari bahwa kau sedang dimanipulasi.
Di titik ini, aku tak ingin lagi mendengar apa-apa dari mulut mereka, dan aku mencoba menulikan telinga. Menyadari apa yang Ayah cari di dalam ponselku, rasanya aku ingin histeris saat itu juga. Ia mencari nama gadis itu di riwayat obrolanku, nama yang dengan bodohnya aku sendiri belum tahu. Namun, aku tahu dengan jelas, nama seperti apa yang ia miliki, nama yang sangat berbeda dengan namaku dan nama keluargaku, dan nama sesama penganut Tuhan-ku. Itu, adalah jenis nama penganut Tuhan yang itu, yang membuatku ingin menangis saat Ayah entah bagaimana berhasil menemukannya bersama dengan gambar pilar penuh simbol di ruang bawah tanah itu. Reaksi selanjutnya sudah bisa kuduga, Ayah dan Ibu, terutama Ayah, berang padaku dan menyuruhku berhenti menemui gadis itu. Ibu mulai menangis sesenggukan, memohon padaku untuk menuruti kata-kata Ayah, di saat sekarang ini seharusnya aku-lah yang menangis keras-keras atas isi kepala mereka yang sangat keras. Aku memikirkan gadis itu yang menungguku dan mendadak aku dilanda sensasi seperti ketika baru saja terbangun dari mimpi buruk, bedanya, ini-lah mimpi buruknya, dan aku tak akan pernah bisa terbangun.
Di titik ini, aku tak ingin lagi mendengar apa-apa dari mulut mereka, dan aku mencoba menulikan telinga. Menyadari apa yang Ayah cari di dalam ponselku, rasanya aku ingin histeris saat itu juga. Ia mencari nama gadis itu di riwayat obrolanku, nama yang dengan bodohnya aku sendiri belum tahu. Namun, aku tahu dengan jelas, nama seperti apa yang ia miliki, nama yang sangat berbeda dengan namaku dan nama keluargaku, dan nama sesama penganut Tuhan-ku. Itu, adalah jenis nama penganut Tuhan yang itu, yang membuatku ingin menangis saat Ayah entah bagaimana berhasil menemukannya bersama dengan gambar pilar penuh simbol di ruang bawah tanah itu. Reaksi selanjutnya sudah bisa kuduga, Ayah dan Ibu, terutama Ayah, berang padaku dan menyuruhku berhenti menemui gadis itu. Ibu mulai menangis sesenggukan, memohon padaku untuk menuruti kata-kata Ayah, di saat sekarang ini seharusnya aku-lah yang menangis keras-keras atas isi kepala mereka yang sangat keras. Aku memikirkan gadis itu yang menungguku dan mendadak aku dilanda sensasi seperti ketika baru saja terbangun dari mimpi buruk, bedanya, ini-lah mimpi buruknya, dan aku tak akan pernah bisa terbangun.
Aku tak tahu mana yang lebih mengerikan, fakta bahwa ternyata aku memiliki orang tua yang fanatik dan paranoid, atau kesadaran baru bahwa ternyata aku benar-benar fanatik dan paranoid akan kehilangan gadis itu dalam hidupku.
.
.
.
Gasp!
Aku membuka mata tanpa tahu kapan tepatnya aku terpejam. Televisi di hadapanku menayangkan entah-apa-aku-tidak-mau-peduli. Yang ingin kupedulikan adalah, mengapa sekarang aku berbaring di sofa dengan rasa panas mendera padahal kipas di ujung ruangan menderu kencang? Ketika kesadaran yang melegakan menghantam kepalaku, rasanya aku ingin berteriak dan menghantam udara. Dalam tigapuluh menit yang magis, rupanya aku telah bermimpi... setidaknya aku berharap begitu. Aku tidak akan pernah mau terbangun lagi, meski kemudian aku terpaku akan rasa keterpikatan yang muncul kembali secara tiba-tiba pada sosok gadis yang sesungguhnya tak pernah kujumpai. Dengan panik dan mendadak, aku memejamkan mata erat-erat, berharap seiring dengan menghilangnya kesadaranku aku akan bisa berjumpa kembali dengannya. Untuk saat ini, yang aku ingin hanyalah terbangun kembali ke dalam sebuah mimpi..

0 Comments