Orang-Orang Bloomington
Orang-Orang Bloomington by Budi DarmaMy rating: 4 of 5 stars
Rasanya sedikit memalukan karena saya baru mengenal Budi Darma setelah sosoknya tiada. Dus, Orang-Orang Bloomington adalah buku pertamanya yang saya baca. Saya sudah dengar kemasyhuran buku ini di mana-mana. Para sastrawan sering mengutipnya, menyebutnya sebagai salah satu harta karun dalam dunia sastra Indonesia.
Cerpen-cerpen dalam Orang-Orang Bloomington, seperti judulnya, menceritakan individu-individu yang tinggal di Bloomington, Indiana, yang saya yakin banyak dipengaruhi oleh episode kehidupan penulisnya ketika melanjutkan studi di sana—Budi Darma sendiri menyebut kumpulan cerpen ini sebagai 'fiksi berdasarkan fakta'. Satu yang paling menonjol dari cerita-cerita dalam buku ini adalah kekuatan dan kedalaman karakter. Setiap kisah bertokoh utama 'aku', yang menarasikan jalannya cerita sekaligus mendeskripsikan tokoh-tokoh lain berdasarkan sudut pandangnya.
Bagi saya, hal paling menarik yang membuat cerita-cerita dalam Orang-Orang Bloomington berbeda dengan cerpen kebanyakan adalah jalan pikiran 'aku' yang punya tendensi psikopati. Bagaimana 'aku' selalu punya pikiran jahat untuk mencelakai orang lain, rasa iri dan dengki yang jelas-jelas dipupuk dan dirawat secara sengaja, dan ketiadaan emosi dalam dirinya yang membuat saya membayangkan tokoh 'aku' selalu mengenakan setelan abu-abu, dengan wajah yang juga berwarna abu-abu. Seakan berada di dunia antara—sosoknya hidup, tapi jiwanya seperti mati. Tindakannya abstrak dan tujuan hidupnya menggantung.
Gaya penceritaan seperti ini memang jarang dijumpai, bahkan mungkin Budi Darma-lah yang memeloporinya dalam kancah kepenulisan fiksi modern di Indonesia. Namun, jika menilik jauh ke belakang dan bergeser ke benua seberang (Amerika abad ke-19 tepatnya), kita tentu kenal dengan cerpen-cerpen Edgar Allan Poe dengan karakter-karakternya yang berjiwa murung dan tanpa gairah selain hasrat-entah-dari-mana untuk berbuat buruk pada orang—atau makhluk—lain. Saat membaca Orang-Orang Bloominton pun, saya mendapat kesan yang sama dengan saat saya membaca The Black Cat-nya Poe.
Sebagai penutup, let me add a lame statement:
Karena manusia tidak ada yang suci dan sempurna, tiap-tiap kita selalu punya tendensi untuk melakukan kejahatan, kepada siapa pun, dalam bentuk apa pun. Kecuali Nabi, manusia tidak bisa sepenuhnya bebas dari prasangka dan curiga. Kitalah yang menentukan apakah akan meneruskan prasangka itu menjadi tindakan dosa atau melumatnya habis ketika masih di dalam dada.
View all my reviews

0 Comments