Pagi ini, ibuku masak nasi kuning yang kedua di minggu ini. Perayaan kecil-kecilan, menandai hari kelahiran suaminya (dua hari lalu) dan anaknya bungsunya (hari ini). Meski perkedelnya keasinan dan tak ada lauk kacang panjang bumbu kelapa kesukaanku, keberadaan gundukan kuning terang di tengah meja makan tak ayal mengingatkanku pada fakta bahwa tepat di hari ini, dua puluh satu tahun yang lalu, seberkas takdir telah digoreskan seiring dengan tenaga penghabisan seorang wanita yang mengejan. Mempertaruhkan nyawanya sendiri demi kelahiran buah hati yang padahal ia tahu hanya akan menghadirkan gangguan tangis dan malam-malam panjang tanpa istirahat.

Kalau ada yang perlu diberi ucapan selamat atas bertambahnya—atau berkurangnya?—usia seseorang, seharusnya sosok itu adalah ibu. Bukan anak yang dilahirkannya. Kita sebagai anak hanya terima jadi; mau dilahirkan ya silakan, mau digugurkan ya kita tidak bisa menghetikan. Terlepas dari perdebatan antara pro-life atau pro-choice, seonggok janin tidak bisa berdebat dengan ibu yang mengandungnya, apakah ia minta dilahirkan atau digugurkan saja sekalian karena sudah tahu kalau masa depannya akan suram. Keputusannya ada di tangan sang ibu. Jika ia membuat pilihan berani untuk merawat janinnya dan melalui masa-masa antara hidup dan mati di ranjang bersalin, tentu ia-lah yang patut diselamati pertama kali. Setelah itu, bolehlah kalau mau menyelamati anaknya. 

Satu hal yang selalu diulang oleh ibuku jika menyinggung pembahasan tentang ulang tahun: "Ulang tahun itu kan artinya umur kita berkurang, bukan bertambah. Enggak perlu lah perayaan-perayaan, lebih baik introspeksi diri". Yah, aku sedikit banyak setuju dengannya, meski pertanyaan "apakah ulang tahun berarti penambahan atau pengurangan umur?" terasa seperti paradoks yang membuat bingung. Dan terkadang, perayaan itu perlu, setidaknya dalam ingatan. Hari kelahiran barang yang tak ada wujud fisiknya seperti Pancasila saja diperingati setiap tahun, masak makhluk kasar—kebalikan dari makhluk halus, bukan makhluk yang kasar secara tindakan dan tempramen—seperti kita tidak merasa pantas jika kelahirannya diperingati?

Dulu, sewaktu masih di sekolah asrama, setiap ada yang berulang tahun, ada tradisi—meski aku tak yakin apakah rutinitas yang dilakukan dalam rentang waktu tiga tahun sudah cukup untuk bisa disebut sebagai tradisi—untuk merayakannya dengan kue, lilin, dan busana bertema. Perayaan semacam itu memang manis, lucu, dan secara subjektif bisa menjadi hal yang menyenangkan (tidak bagi semua orang). Tapi, apa pula pentingnya perayaan kalau kemudian kita lupa apa yang sebenarnya sedang kita rayakan? Hari kelahiran kawan kah? Atau kesempatan berswafoto untuk meningkatkan engagement medsos masing-masing?

Hah.. maaf ya kalau aku sedikit bitter. Aku belum siap menyambut esok hari dan esoknya lagi dan esoknya lagi dengan menyandang status usia dua puluh satu. Tahun lalu, aku sempat takut ketika akan memasuki usia kepala dua. Rasanya leher dan bahuku saja masih oleng dengan satu kepala yang harus ditumpu, bagaimana jika harus ditambah satu kepala lagi? Yah, lambat laun, aku mulai bisa menerima, mau tidak mau harus begitu. Tahun ini, aku tidak takut menambah beban 0,1 kepala di atas bahu. Hanya sedikit cemas dan khawatir. Adulting comes with responsibilities, right? Am I qualified enough to handle all of the responsibilities for the years ahead? Dan pertanyaan-pertanyaan lain di kepala yang menghantui bukan hanya di waktu malam sebelum tidur, melainkan sepanjang hari dari pagi hingga lelap. 

Ah iya, ada satu hal lagi yang terkadang luput dari pembicaraan soal ulang tahun: apresiasi diri. Selamat ulang tahun diriku, terima kasih atas semua yang kamu lakukan selama dua puluh tahun. Kamu mungkin merasa belum pantas mendapatkan apresiasi dari orang-orang bahkan dari dirimu sendiri karena belum berjuang terlalu keras. Tak apa. Aku akan tetap memberimu ucapan selamat. Aku tahu, percakapan ini terlihat bodoh dan aneh. Tak apa. Terima kasih, terima kasih. Sekarang, pergilah makan malam, perutmu keroncongan. Sampai jumpa esok hari. Cheers. 


 

0 Comments