Bagi hampir semua orang di dunia, catatan dan refleksi akhir tahun 2020 akan memunculkan setidaknya satu kosa kata yang sama: pandemic, pandémie, pandemia. Musibah, kemalangan, pagebluk, you name it

Refleksi akhir tahun 2020 mungkin tidak akan seseksi tahun-tahun sebelumnya, yang diisi daftar capaian membanggakan, pengalaman mengesankan, atau kehadiran kawan-kawan baru. Bagi hampir semua orang di dunia, 2020 adalah satu babak permainan baru yang dirilis secara tiba-tiba oleh developer, tanpa adanya pengumuman pun konferensi pers yang mendahului.

Bagiku pribadi, sejak setidaknya dua tahun sebelum 2020 benar-benar terjadi, aku menyimpan ketakutan yang absurd terhadap dirinya. Betapa di tahun kembar tersebut usiaku akan sampai di kepala dua, usia di mana banyak orang telah bisa meraih kemandirian dan melepaskan kebergantungannya dari orang lain. 

Membuatku merasa takut.

Usia di mana banyak orang telah mulai menata pondasi dan perlahan membangun mimpi-mimpi bertingkat tinggi.

Membuatku merasa takut.

Kini, lima bulan setelah akhirnya aku menyandang titel usia 20, nyatanya ketakutan itu masih ada dan menetap. Bahkan, kalau boleh jujur, cenderung membesar.

Mungkin dikarenakan usahaku yang kurang maksimal dalam menggapai apa yang (tadinya) ingin aku capai di tahun ini, di usia ini.

Mungkin karena memang sedari awal aku tidak mempersiapkan rencana-rencana matang, atau resolusi-resolusi yang dibingkai indah, seperti orang lain.

Mungkin justru sebenarnya karena aku selalu mengikuti apa yang orang lain lakukan. Mendengarkan saran yang alam semesta berikan kepada sosok asing di belahan nasib lain, alih-alih mendengarkan saran yang ia sampaikan kepadaKU. 

Resolusiku nomor satu untuk tahun 2021 adalah berhenti mengikuti standar hidup dan kegembiraan orang lain.

Ya, ya, ya, kedengaran seperti kampanye self-love di media sosial, tapi mungkin sebenarnya memang cukup ampuh. Akan kujadikan semangat tersebut sebagai mantra hidup 2021; akan kuulang-ulang sampai bosan.

🌻 🌱 🌻

Duapuluh duapuluh memang menyeramkan, tapi berkatnya, banyak inovasi dikembangkan. Rapat virtual, fotografi virtual, hingga pesta pernikahan virtual. Aku semakin yakin bahwa keterbatasan memang pada akhirnya akan mengaktifkan sisi kreatif dalam diri seseorang. Beradaptasi atau mati, begitu kan katanya?

Memang banyak hal tidak terduga terjadi di tahun ini, yang mungkin menghambat ribuan rencana-rencana hebat. Namun, usahlah menyalahkan hal-hal tidak terduga itu dan menjadikannya alasan atas ketidakberdayaanmu melakukan sesuatu. Jika masalah datang, kita tidak mencemooh atau lari darinya; kita menjadikannya alat untuk memacu diri supaya lebih kuat. Merangkulnya untuk mencari titik-titik kelemahan, sehingga dapat menemukan formula yang tepat untuk mengatasinya.

Masalah adalah lawan yang tidak boleh dimusuhi.

🌻 🌱 🌻

Duapuluh duapuluh memang tidak sempurna. Tapi, bukan berarti kita harus terus murka. Setiap satuan waktu adalah perayaan, meski tidak harus pakai warna-warni petasan. 

Sulit memang untuk kembali ke kehidupan normal. Tapi, memangnya definisi normal itu bagaimana? Adakah aturan yang mengikatnya? Mengapa tidak menciptakan normal-normal kita sendiri selagi bisa, selagi masih diberi kesempatan untuk bertahan hidup lebih lama? Pada akhirnya, banyak hal yang tadinya kita kira adalah kebutuhan, ternyata cuma keinginan semata. (Nggak, aku nggak sedang membicarakan harbolnas, meskipun memang bisa dikaitkan ke sana.)

Di pengujung duapuluh duapuluh, sebagai perayaan atas keselamatan kita di dunia, mari menghargai setiap napas yang masih bebas kita sesap tanpa sesak. Membingkai momen gembira yang sempat kita lewati sebelum kegemparan ini terjadi. Merencanakan apa-apa yang ingin kita lakukan esok, lusa, tulat, tubin, dan seterusnya. Atau, tidak punya rencana pun tidak mengapa. Ikuti saja kata hati, jangan ikuti kata-kata di takarir Instagram seseorang. (Satu, sejauh ini aku sudah satu kali mengulang mantra 2021-ku.)

Untuk tahun ini, setidaknya, aku bersyukur sempat liburan ke Bali—meski harus bolos kuliah beberapa hari. Aku beryukur atas asin angin pesisir yang sempat kucicipi tahun ini. Aku bersyukur atas keputusan-keputusan baik yang aku ambil, dan bersyukur atas keputusan tidak baik yang memberiku pelajaran untuk tidak mengulanginya di kemudian hari. Aku beryukur karena akhirnya bisa berdamai dengan rasa sebal dan sesal yang melibatkan beberapa kawan dan kenalan. Aku bersyukur atas hobi-hobi baruku, atas jerawat-jerawatku yang akhirnya mereda, atas workout-workout Chloe Ting dan suntikan endorfin yang menyenangkan. Atas aplikasi FatSecret. Atas hujan tadi sore dan sore-sore sebelumnya. Atas film-film yang membuatku terpukau. Atas musik dan musisi keren yang membawaku pada eargasm.  Atas akun-akun shitpost top tier yang kutemukan. 

Meskipun, banyak juga keluh dan sesal yang ingin kutumpahkan. Tapi, sebagai manusia yang berdaya dan masih mampu berpikir jernih, tidak akan kubiarkan setetes pun air keruh tumpah di dalam tulisan ini. Negativity doesn't bring anything but negativity.

Apa lagi ya, yang ingin kutuliskan tentang perbatasan antara akhir dan awal tahun?

Pokoknya, tetap lakukan apa yang kamu senangi. Asah kemampuan, dalami ketertarikan. Lakukan hal-hal yang belum pernah kamu lakukan sebelumnya. Setiap saat, selalu ada ketakutan semacam, "bagaimana jika aku tidak sempat melakukan ini?" atau, "aku tidak ingin melewatkan ini sebelum aku mati!". Sekarang, kekhawatiran-kekhawatiran ini semakin jelas saja dengan situasi pandemi yang belum berakhir. Kematian bisa jadi sedang mengintaimu dari sudut mata. Yah, bukannya bermaksud menakut-nakuti, tapi kita harus saling menjaga sesama entitas di planet Bumi, bukan?


Harapanku untuk 2021?

Panjang umur manusia-manusia yang peduli.


Kota kecil di galaksi Bima Sakti,

31/12/2020, 22:35

NK 






0 Comments