[ Pengujung Bulan ] November Feast
Ah, finally, a spare time for me to write a blog post.
Tolong sepakat saja denganku, bahwa waktu berlalu begitu cepat sementara kita masih sibuk termangu. Maret akan hadir kembali dalam 64 hari, 7 jam, dan 59 menit saat aku menulis ini, sementara alam bawah sadar kita mungkin masih memproses apa yang terjadi pada Maret yang lalu.
November ini, aku lebih banyak menonton film ketimbang membaca buku. Yah, sebenarnya, aku cuma mampu menyelesaikan satu buku saja. Satu buku yang telah mengambil alih tiga puluh hariku untuk berusaha menyerap seluruh rangkaian kata demi makna di dalamnya.
Mari, kuajak kalian untuk tapak tilas petualanganku di bulan November.
1. Filosofi Teras (Henry Manampiring) 📚
Sepanjang dua puluh tahun kehidupan, sepertinya buku ini adalah literatur filsafat pertama yang pernah kusentuh. Meskipun, secara teknis, aku sudah berkali-kali menyentuh novel Dunia Sophie setiap kali berkunjung ke toko buku penerbit mayor (dan mengintip alinea-alinea awalnya saat suatu hari temanku membawanya ke kelas).
Buku ini aku pinjam dari seorang kawan. Sudah lama sebenarnya ingin kupinjam, sama lamanya dengan waktu yang ia habiskan untuk mendekam dalam daftar buku yang ingin kubaca.
"Eh, aku pikir bukunya gak setebal ini," komentarku saat akhirnya melihat Filosofi Teras dalam bentuk fisik (selama ini hanya lihat sampulnya di internet).
"Iya. Udah tebal, hurufnya kecil-kecil pula" sahut temanku.
Kuintip sekilas bagian dalam buku yang mengingatkanku pada tulisan-tulisan akademik ; paragraf-paragraf rapat dengan ragam subjudul pada tiap babnya.
Filosofi Teras merupakan buku pengantar yang baik bagi siapa saja yang ingin berkenalan dengan filsafat, utamanya Stoisisme. Meski begitu, buku ini juga bisa dinikmati oleh mereka yang sama sekali tidak memiliki ketertarikan terhadap bidang filsafat, tapi membutuhkan suatu pegangan untuk hidup yang lebih tenang. Atau, karena buku ini dikategorikan sebagai self improvement, maka akan cocok pula dibaca oleh kaum muda yang ingin mengembangkan diri menjadi individu yang lebih baik—terlepas dari indikator 'kebaikan' yang cukup absurd.
Anyway, Stoisisme alias filosofi Stoa itu apa sih?
Since I know that I'm not—and probably would never—capable to explain about Stoicism in terms of definition, I'll just write down these lines from the book:
..filsafat Stoa sering disebut sebagai aliran yang mengajarkan jalan hidup. Mereka memang aliran filsafat, tetapi bukan dalam arti cara berpikir ruwet dan menjelimet serta tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari.
...kebahagian—yang kita bayangkan sebagai jiwa yang tenang dan damai—digambarkan oleh kaum Stoa sebagai situasi negatif, yaitu 'tiadanya gangguan'. Bahagia adalah saat kita tidak terganggu.
Bagi penganut Stoisisme, pencapaian rasa bahagia tertinggi disebut apatheia; situasi di mana seseorang terbebas dari emosi, penderitaan, serta nafsu-nafsu kehidupan.
Filosofi Teras-nya Henry Manampiring ini sebetulnya ringan sekali dan cukup kontekstual dengan kehidupan masyarakat masa kini. Memahaminya sih mudah, menerapkannya itu loh yang cukup sulit. Lebih-lebih kalau harus konsisten :D
Aku sebenarnya mau menjadikan Filosofi Teras sebagai kitab pegangan hidup. Tapi, mengingat statusnya yang cuma pinjam, aku memutuskan mencatat poin-poin pentingnya di notes-ku yang lucu. FYI, di bagian akhir buku ini juga ada cheat sheet-nya (sudah macam diriku kalau mau presentasi saja harus bikin cheat sheet).
2. The Trial of The Chicago 7 (Aaron Sorkin) - 2020 🎬
![]() |
| Image source: whatsnewonnetflix.com |
Ini. Adalah. Film. Based. On. True. Story. Terbaik. Pokoknya terbaik! Sebagai catatan, sebelumnya aku nggak tahu apa pun tentang kasus The Chicago 7. Dan setelah selesai nonton, aku langsung did some research and dug deeper about this case, terutama sosok Abbie Hoffman yang karismatik.
Dari daftar pemainnya saja, film ini menawarkan racikan yang tidak main-main. Kombinasi Sacha Baron Cohen, Eddie Redmayne, hingga Joseph Gordon-Levitt mewarnai reka ulang kerusuhan antara protestan antiperang Vietnam dengan polisi di Chicago pada 1968 (meskipun, jujur, ini adalah film pertama Sacha Baron Cohen yang kutonton, padahal sudah sejak lama aku berniat nonton aktingnya sebagai Borat si jurnalis gadungan yang nyentrik nan ikonik).
Aku suka kenyataan bahwa film ini menyisipkan footage-footage hitam-putih asli pada saat kerusuhan tahun 1968, yang di-blend secara apik dengan shot-shot yang diambil di masa kini. Ah iya, lokasi pengambilan gambar untuk film ini juga sama persis dengan lokasi kerusuhan. Bisa dibayangkan, atmosfir udara yang penuh aroma peluh dan darah para aktivis serta pria-pria besar berseragam biru benar-benar dihadirkan kembali dalam versi warna-warni.
Eh, jangan cuma dibayangkan. Lebih baik langsung ditonton saja.
3. The Queen's Gambit (Scott Frank, Allan Scott) - 2020 🎬
![]() |
| Image source: lifestyleasia.com |
Sejak awal dirilis, memang banyak orang yang memuja-muja miniseri The Queen's Gambit, bahkan menobatkannya sebagai salah satu serial Netflix terbaik sepanjang masa. Salah satu faktor utamanya adalah kehadiran karakter Beth Harmon yang secara sangat apik serta epik dimainkan oleh Anya Taylor-Joy, dengan tatapan intensnya yang memberikan warna tersendiri dalam setiap episodenya.
Sinopsis singkat, Beth Harmon adalah seorang yatim piatu yang tinggal di panti asuhan bernama Methuen Home. Beth mulai menunjukkan ketertarikan terhadap permainan catur setelah menemukan janitor di panti tersebut, Mr. Shaibel, tengah bermain catur sendirian di gudang penyimpanan. Rupanya, Beth merupakan seorang prodigy yang memiliki bakat alamiah dalam permainan catur.
Dengan tokoh utama seorang perempuan (superior) di setting waktu tahun 1960-an, The Queen's Gambit tentu menawarkan kisah yang akan membuat orang yang hidup di masa tersebut akan mengernyit menontonnya. Beth adalah sosok yang mandiri dan sangat bebas. Ketika perempuan-perempuan muda seusianya sibuk memikirkan lelaki dan perkawinan, Beth sibuk berlatih dan membaca buku-buku catur. Ketika perempuan-perempuan itu beranjak dewasa dan sibuk memutari rak-rak di swalayan, menggandeng anak-anak mereka dalam episode belanja bulanan kesekian, Beth sibuk berkeliling dunia menghadiri beragam turnamen bersama ibu angkatnya. Tidak ada yang mengikatnya dalam hidup selain ambisinya untuk terus memenangkan turnamen catur.
Selain bicara soal abilitas perempuan menggeluti bidang yang selama ini lekat dengan citra kelelakian seperti permainan catur, The Queen's Gambit juga menyinggung adiksi terhadap obat-obatan yang dapat menjatuhkan seseorang dari langit-langit mimpi dan ambisi. Diceritakan bahwa Beth Harmon mengalami adiksi terhadap pil hijau tranquilizer, dan merasa bahwa pil-pil itulah yang selalu berhasil mengantarkannya pada kemenangan. Pada akhirnya, ketergantungan obat memang tidak pernah membawa dampak apa pun selain keburukan.
Kamu tidak harus paham atau bahkan menyukai permainan catur untuk dapat menikmati pertunjukan dalam tujuh episode ini. Misalnya pun kamu mulai menonton atas dasar rasa penasaran karena series ini sedang banyak dibicarakan, juga tak mengapa. Pokoknya tonton saja, aku jamin tak akan menyesal.
Side note: sinematografi dalam The Queen's Gambit juga betul-betul indah; a chef's kiss kalau kata orang-orang.
4. The Secret of The Saqqara Tomb (James Tovell) - 2020 🎬
![]() |
| Image source: see.news |
Meski tidak begitu sering menontonnya, sebenarnya aku sangat suka karya-karya dokumenter. Makanya aku bisa duduk berjam-jam di depan televisi, menonton tayangan National Geographic mulai dari kisah perjalanan hingga keseharian hewan-hewan.
Lalu, aku menemukan dokumenter ini di Netflix. Film ini merupakan dokumentasi penggalian situs Saqqara di Mesir yang dilakukan arkeolog dalam negeri. Di luar dugaan, dokumenter ini cukup emosional. Kalau aku ini orang Mesir, mungkin aku akan menangis menontonnya. Dalam satu kesempatan, mereka bilang bahwa orang Mesir selalu mengingat nenek moyangnya, sehingga penemuan setiap artefak memang akan menimbulkan perasaan campur aduk dalam hati mereka. (Oh, lihat, sekelompok orang di abad ke-21 yang begitu menghargai sejarah masa lalunya. Sesuatu yang sulit ditemukan di peradaban modern.)
Fokus penggalian adalah untuk menemukan makam Wahtye yang telah berusia 4.400 tahun. Dengan mengandalkan dana dari pemerintah—yang ada tenggat waktunya—dan waktu penggalian yang terbatas karena mendekati bulan Ramadan, tim harus bekerja cepat tapi tetap teliti. Long story short, mereka berhasil menemukan keseluruhan kerangka anggota keluarga Wahtye yang terdiri dari Wahtye, istrinya, ibunya, serta keempat anaknya.
*) fakta nggak penting: aku baru tahu pelafalan kata "tomb" yang benar dari dokumenter ini haha 😬
5. Unbelievable (Olivia Wilde) - 2019 🎬
![]() |
| Image source: mirtomo.com |
TW// sexual assault, rape
Unbelievable adalah serial terbatas yang diangkat dari kisah nyata tentang korban-korban dari seorang pemerkosa berantai di Washington dan Colorado, Amerika Serikat. Alur ceritanya disadur dari artikel berjudul "An Unbelievable Story of Rape" yang diterbitkan oleh organisasi berita nonprofit pada 2015.
Aku merasa serial ini penting ditonton oleh semua orang (meskipun harus berhati-hati jika ingin merekomendasikannya kepada penyintas kekerasan seksual), untuk mengingatkan kerentanan korban pemerkosaan yang harus kembali menjalani kehidupan setelah mengalami kejadian paling mengerikan dalam hidup. Mereka akan selalu hidup dalam bayang-bayang, betapa pun kuatnya mereka menyangkal kejadian yang menimpa mereka. Ditambah dengan kerapuhan sistem yang seringkali menempatkan korban pemerkosaan di posisi yang setara dengan, katakanlah, korban pencopetan. Dua kejahatan berbeda dengan dampak yang juga jelas berbeda, tapi bisa sama-sama dianggap remeh oleh banyak orang.
Duo detektif Karen dan Grace dengan mudah menjadi karakter favoritku. Kemunculan detektif senior Grace yang diperankan Toni Collette pada awalnya membuatku terkesiap. Bagaimana tidak? Film Toni Colette yang terakhir aku tonton adalah I'm Thinking of Ending Things, di mana ia berperan sebagai sosok ibu yang agak gila. Sosoknya juga selalu mengingatkanku pada perannya di Hereditary yang sungguh sialan seramnya. Jadi, aku sedikit lega melihat Toni berperan sebagai karakter normal di film yang bukan horor atau thriller 😃
Sementara itu, keteguhan hati dan obsesi Karen untuk memecahkan kasus pemerkosaan di wilayahnya membuat mataku selalu terasa basah. Aku seperti memahami perasaannya yang ingin segera menangkap pelaku pemerkosaan sialan itu, tapi kekurangan bukti-bukti. Kekaguman Karen—yang baru merintis karir di kepolisian—dengan idealisme "pokoknya kejahatan harus diberantas"-nya terhadap Grace juga menyenangkan untuk dilihat.
Serial ini sangat emosional. Melihat perempuan-perempuan korban pemerkosaan yang begitu rapuh benar-benar menyakitkan hati. Betapa kehidupan sebagian besar dari mereka benar-benar berubah 180° dari sebelumnya. Yang ceria jadi muram, yang tadinya punya kehidupan tenang jadi selalu merasa tegang. Beberapa orang mungkin ingin hukuman mati dihapuskan, tapi begitu melihat pelaku pemerkosaan berantai yang brutal dan tidak segan-segan menyakiti korbannya, pasti mereka pun ingin melemparinya dengan batu sampai mati.
6. Stolen Identity (Hideo Nakata) - 2018 🎬
Ini adalah jenis film menegangkan yang membuatmu sebagai penonton dengan sudut pandang orang ketiga merasa frustrasi karena tidak mampu melakukan apa pun untuk menolong karakter utama. Film ini menghadirkan karakter antagonis sosiopat yang agak disturbing dan membuat tidak nyaman, dan, meskipun nggak bisa dibilang plot twist juga, tapi kalian pasti tidak akan bisa menebaknya siapa orangnya 😃
Singkat cerita, Manabu Kagaya secara tidak sengaja meninggalkan ponselnya di taksi, yang kemudian diambil oleh seorang asing. Orang asing ini rupanya seorang yang sangat melek teknologi dan menggunakan keahliannya ini untuk melakukan sesuatu yang jahat. Ponsel itu pada akhirnya dikembalikan lewat pacar Manabu, Asami Inaba. Yang terjadi berikutnya adalah pria jahat sosiopat ini meretas ponsel mereka dan menguntit keduanya, baik di dunia nyata maupun melalui media sosial.
Stolen Identitiy ini kutonton secara online waktu ada gelaran Japanese Film Festival. Apakah tersedia di layanan streaming lain? Entahlah. Sepertinya ada di Netflix Jepang. Coba saja pakai VPN.







0 Comments