[ Pengujung Bulan ] October Feast
Langsung saja deh. Aku gak pandai basa-basi.
1. Selasa bersama Morrie (Mitch Albom) π
Aku sudah menyinggung buku ini di dua tulisan sebelumnya. Sungguh, bacaan ini sangat, sangat kurekomendasikan untuk menu makan malam yang sehat atau suplemen penambah senyum di waktu suntuk. Cocok sekali bagi kamu yang kurang suka buku-buku pengembangan diri dan atau motivasi berapi-api, tapi tetap ingin mendapatkan pelajaran hidup.
Aku ingin hidup seperti Morrie yang, bukannya tanpa beban, tapi ia mampu menjadikan setiap beban menjadi cukup ringan untuk bisa dipikul kedua bahunya yang ringkih.
Aku ingin hidup seperti Morrie yang tak henti menebar kasih sayang kepada siapa saja yang berada di sekitarnya. Menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang benar-benar diidamkannya, sehingga tidak ada penyesalan bahkan saat kematian sudah divonis atas dirinya.
Mari berdoa untuk mendiang Profesor Morrie Schwartz, atas hari-hari dalam hidupnya yang jauh dari kesia-siaan.
—(one of) my favorite part from the book:
2. Karyamin's Smile (Ahmad Tohari) π
Alias "Senyum Karyamin", tapi versi bahasa Inggris. Oleh sastrawan yang sama yang mengarang novel fenomenal "Ronggeng Dukuh Paruk". Bohong kalau tidak pernah dengar judul itu.
"Karyamin's Smile" berisi kumpulan cerita pendek Ahmad Tohari yang ditulis antara tahun 1976 sampai 1986, dan dikurasi oleh Maman S. Mahayana. Bagi yang baru pernah membaca karya-karya Ahmad Tohari—ya siapa lagi kalau bukan aku sendiri π—cerita pendek di buku ini mungkin akan sedikit memberi efek kejut semacam, "loh kok ironis banget nasibnya si karakter ini." Ya, memang begitu. Ahmad Tohari banyak menyulam cerita berlatarkan masyarakat kelas bawah yang lugu.
Cerita favoritku? Tentu saja "Blokeng", kisah si perempuan kurang waras yang dibuat 'main' oleh salah satu warga lantas hamil dan melahirkan. Tapi tentu kisahnya tidak sesimpel itu, kamu pikir ini headline Pos Kota?
3. Orang Aneh (Albert Camus) π
Sudah diperingatkan akan absurd sejak dari sinopsis. Kayaknya, sebelum ini pernah baca buku Albert Camus lainnya, tapi apa ya? Maaf agak lupa.
Suatu pagi di bulan Oktober ketika sedang memamah sarapan sambil mengganti-ganti kanal televisi, aku gak sengaja menemukan animasi gemas ini. Judging from the title, this should be a scary animation. Tapi, kehadiran goblin hijau pendek bertanduk mini ini—sayang betul aku lupa namanya—benar-benar mengubah keseluruhan atmosfir. Ceritanya, dia ini goblin alias sejenis makhluk/hontu yang bisa dipanggil melalui bola—ghost ball—sama Hari, pemiliknya, kapan pun dia butuh bantuan untuk mengalahkan goblin-goblin jahat. Nantinya, goblin yang berhasil dikalahkan akan disegel di bola-bola lainnya.
See? Dia punya senjata a.k.a. alat ajaib berupa pentungan berbentuk lampu lalu lintas. π
Novel dengan tokoh utama bernama Mersault, seorang nihilis dengan pemikiran yang tidak seperti orang kebanyakan, konon merupakan cerminan dari citra absurditas dalam diri Camus sendiri. Dalam versi aslinya, ia berjudul "L'Γtranger"—The Stranger. Entah kenapa, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "Orang Aneh".
Oh, rupanya, Penerbit Obor telah lebih dulu menerbitkan novel berlatar belakang di Aljazair ini dengan judul "Orang Asing". Dua terjemahan judul yang berbeda ini, bagiku, bisa memberikan interpretasi yang sama sekali lain atas diri Mersault. Jika menganggapnya sebagai 'orang yang aneh' karena kecenderungan perilaku dan pemikirannya yang tidak semua orang bisa memahami, maka kita menempatkan diri sebagai 'penonton sidang yang konservatif' dan memandang sosok Mersault sebagai ancaman terhadap masyarakat, maka dari itu ia patut dihukum mati. Namun, jika menggunakan term 'orang yang asing', maka kita menempatkan diri sebagai sosok Mersault yang merasa terasing di dalam pikirannya sendiri—yang sebenarnya cukup simpel, tapi justru karena kebanyakan orang suka yang ribet, jadi perkataan serta pembelaan dirinya sulit dipahami.
Aku ngomong apa sih? Kuberi konteks deh:
Mersault baru saja ditinggal mati oleh ibunya. Sehari setelahnya,—iya, setelah kematian ibunya—ia mulai berkencan dengan teman kantornya bernama Marie, dan berteman dengan tetangga kamarnya, Raymond, yang senang cari gara-gara. Beberapa lama setelahnya, mereka bervakansi ke pantai. Di sana, Mersault justru membunuh seorang Arab, gara-gara terik matahari membuatnya merasa tertekan, dan kebetulan ia membawa pistol. Dirinya lalu dipenjara dan dan menjalani beberapa sidang, di mana ketukan palu terakhir dari hakim menentukan akhir hidupnya di dunia. Iya, Mersault dihukum mati, karena jaksa penuntut terus-menerus menekankan kepribadian Mersault yang 'aneh' dan tidak bisa diterima orang banyak. Kalau dibiarkan hidup, takutnya dia akan membunuh dengan serampangan lagi. Begitulah kira-kira.
Sekarang, coba baca lagi paragraf sebelumnya. Semoga sedikit paham.
4. The Shining (Stanley Kubrick) -1980 π¬
![]() |
| Image source: mentalfloss.com |
Meski tidak merayakan haluwin, tapi hawa-hawa ingin menonton film horor tetap menghampiriku. Tanpa pikir panjang, di pengujung bulan aku memutuskan nonton The Shining, antara lain karena:
1. Memang belum sempat nonton sampai hari itu;
2. Ya mau nunggu sampai kapan lagi buat nonton The Shining? It was the end of October, just the perfect time to watch the most creepy psychological thriller movie of all time.
5. The Haunted House: The Secret of The Ghost Ball -2016 π¬
![]() |
| Image source: netflix.com |
Suatu pagi di bulan Oktober ketika sedang memamah sarapan sambil mengganti-ganti kanal televisi, aku gak sengaja menemukan animasi gemas ini. Judging from the title, this should be a scary animation. Tapi, kehadiran goblin hijau pendek bertanduk mini ini—sayang betul aku lupa namanya—benar-benar mengubah keseluruhan atmosfir. Ceritanya, dia ini goblin alias sejenis makhluk/hontu yang bisa dipanggil melalui bola—ghost ball—sama Hari, pemiliknya, kapan pun dia butuh bantuan untuk mengalahkan goblin-goblin jahat. Nantinya, goblin yang berhasil dikalahkan akan disegel di bola-bola lainnya.
Sini, aku beri visualisasi untuk memperkuat argumenku, dan biar kamu juga setuju bahwa si goblin hijau ini adalah makhluk tergemas sekecamatan:
![]() |
| Image source: sidereel.com |
6. Sandiwara Sastra (Podcast Budaya Kita) π§
Helen Menunggu di Amsterdam
Alih wahana dari novel "Helen dan Sukanta" (Pidi Baiq)
Persekot
Alih wahana dari cerpen "Persekot" (Eka Kurniawan)
Itu dulu deh kalau berdasarkan yang kuingat. Berhubung Oktober-ku kemarin sangat riuh, jadi gak sempat menonton banyak sinema. Tapi, entah bagaimana, bisa sampai menghabiskan tiga buku.










0 Comments