Tanaman yang kubeli di kios tanaman hias beberapa waktu lalu, daunnya semakin melebar; motifnya semakin mekar.

Minggu depan, aku akan memasuki periode ujian tengah semester ganjil. Sekarang aku sudah semester lima. Ganjil rasanya. Tahun terakhir kuliah teori, aku lalui dengan pembelajaran jarak super jauh—tujuh jam jalur kereta dari kediamanku ke lokasi dosen-dosenku Yogyakarta.

Jadwal ujian pertamaku jatuh di tanggal dua puluh. Itu berati empat hari dari sekarang. Setelah Jumat ini berakhir, itu berarti tinggal tiga hari tersisa.

Tetapi, aku tak mau terburu-buru. Tak mau seperti diburu waktu—meskipun kenyataannya memang begitu. Mahasiswa selalu diburu waktu, tapi masih saja pandai mencuri waktu untuk melakukan kegiatan yang disuka.

Hari ini, aku bisa saja mulai mencicil tanggungan ujian yang semuanya dalam format take home—fakultas (atau departemen ya?) melarang bentuk ujian sit-in selama perkuliahan daring, agaknya. Tapi, aku sedang tidak ingin melakukan apa-apa hari ini. Ingin istirahat satu hari saja, sebelum kembali ke medan tempur besok.

Selama sebulan ini (atau bahkan lebih), pikiranku sibuk berlari-lari dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Beruntungnya, ia bisa tetap fokus meskipun harus dilempar ke sana kemari seperti bola pingpong.

Maka, di Jumat yang syahdu sebab sempat diwarnai hujan siang ini, aku memutuskan harus rehat sejenak.

Tidak mengerjakan tugas, tidak membuka laptop, bahkan tidak menonton film—yang biasanya menjadi bentuk rehatku. 

(Saking malasnya membuka laptop, mengetik tulisan ini pun kulakukan di ponsel. Agak ribet sih, tapi kan ponselku pintar. Ditemani playlist "creamery dreamery", kalau ada yang mau dengar, bisa cek di halaman muka blog ini, di bagian "Playlist for You ^^).

Sehabis subuh, aku menyelesaikan membaca Selasa bersama Morrie yang masih tersisa separuh.

Karena kisahnya memang menggugah, maka aku jadi ikut tergugah. Selasa bersama Morrie bukan buku motivasional, sebab isinya melulu pelajaram hidup. Pelajaran hidup tidak membikin termotivasi, kan? Pelajaran hidup membuat kita terenyak; ternyata masih banyak sekali yang belum kita sadari.

(Oke, aku tidak akan membahas buku itu lagi di sini. Sudah kubahas di tulisan kemarin).

Siang ini, aku janjian dengan temanku ke suatu tempat. Tapi, seperti kusebutkan sebelumnya, siang ini hujan. 


Ini tanaman zodia, (katanya) buat mengusir nyamuk (tapi gak efektif blas).

Aku tahu hujannya tidak akan lama, jadi aku tetap bersiap-siap. Meskipun, jujur, kalau tidak ada janji, hari ini rasanya aku mau bermalas-malasan saja sambil baca Senyum Karyamin-nya Ahmad Tohari versi bahasa Inggris.


Karyamin's Smile; Ahmad Tohari.


Tuh, suasana hujan ringan di siang hari yang membuat tembok jadi glowing begini memang paling cocok buat baca buku.

Sehabis makan siang, aku menjemput temanku di rumahnya. Eh, ternyata di sana ada anak kucing nyasar. Lucu banget, katanya sih manja gitu.

"Aku bawa pulang boleh?" tanyaku dengan impulsif.

"Ambil aja gak apa. Tapi gimana kamu bawanya?"

Ya, aku kan pakai motor, bukannya mobil. Mau ditaruh di mana si Boni/Bony/Bonnie ini—iya, itu namanya.

Pokoknya, di luar rencanaku mengadopsi Boni/Bony/Bonnie ini, yang sebenarnya mau kubilang melalui tulisan ini ada di paragraf-paragraf berikut.

Terkadang, kita tidak sadar—atau menolak kesadaran—bahwa kita butuh rehat. Barang sejenak. Satu hari bukan waktu yang begitu panjang. Kita selalu butuh istirahat secara berkala, tanpa butuh alasan mengapa harus melakukannya. Memutar video tanpa jeda di perangkat yang performanya tidak maksimal hanya akan membuatnya kelelahan, lalu nge-hang. Bisa apa kita kalau otak sudah membeku kepanasan? Yang ada, banyak pekerjaan jadi dikerjakan dengan tidak maksimal, atau bahkan tertunda sama sekali.

Istirahat bukan sebuah dosa. Bahkan kalaupun menurutmu ia adalah dosa, toh dalam hidup kita juga tidak bisa lepas dari dosa. Bukan masalah, besok kamu masih bisa bertobat dengan cara menginjak kembali pedal gas dalam-dalam, menjemput rutinitas, menyelesaikan apa yang sengaja kamu tunda hari ini sebagai bentuk penghargaan atas segala usahamu.


Terakhir, tentunya, jangan lupa makan. Yang teratur!










0 Comments