Mula-mula, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada diriku di usia sekolah menengah, entah pertama atau akhir aku tidak terlalu ingat, yang mau rela menempuh jarak berpuluh kilometer untuk menyambangi toko buku mayor kepunyaan konglomerat itu. Pada salah satu kunjungannya, Ia mengambil sebongkah buku bersampul dominan putih dan membawanya ke kasir, tanpa menaruh ekspektasi apapun dari jilidan tebal itu selain, “semoga kisah di dalamnya cukup menarik sehingga potret pahlawan yang keluar dari dompetku tidak menangis sia-sia.”

Tertera jelas dengan fon tegas, hitam di atas putih, nama penulis buku itu: Mitch Albom. Kedengaran  anggun dan elegan, aku sangat suka.

Dan persis seperti itulah tulisannya; anggun, elegan, dan harus kukatakan, magis. Ah iya, aku lupa memberi tahu judul buku yang kumaksud.

The Time Keeper. Sang Penjaga Waktu.

Dengan wajah yang seperti itu, pantas saja aku langsung tertarik pada pandangan pertama.

Memang benar sih, industri perbukuan sekarang, terutama penerbit-penerbit besar, menggantungkan harapannya pada perwajahan buku yang menarik dan eye catching. Pokoknya biar pengunjung toko buku tertarik duluan dengan sampulnya, masalah isi urusan belakangan.

Kembali ke Mitch Albom. Seingatku, lepas beberapa halaman awal kubaca, aku langsung jatuh cinta pada gaya tulisan dan pengisahannya. Perasaan ini semakin membuncah seiring makin dekatnya aku pada halaman akhir. Dan ketika cerita benar-benar berakhir, aku hanya bisa tepekur atas berakhirnya keajaiban kecil dalam genggamanku.

Tidak, ini bukan resensi buku, kawan. Di sini, aku hanya ingin membagi pengalamanku berkelana dalam rimba kata-kata Albom. Betapa pada kunjunganku selanjutnya ke toko buku, aku langsung mencari namanya di bagian buku-buku terjemahan. Aku ingin melepas rindu.

Pada kesempatan kedua ini, aku memilih judul yang bahkan imajinasiku saja tidak pernah sampai kepada ide tersebut:

Panggilan Telepon Pertama dari Surga. How magical that title sounds? It’s beyond my wildest imagination.

Lagi-lagi, mengomentari sampulnya, yang satu ini indah sekali. Bohong kalau ada yang bilang tidak. Shout out to the illustrator, aku gak tau kamu siapa tapi kamu sungguh keren. Omong-omong, kenapa ya ilustrasi tentang surga selalu lekat dengan pola lengkung dan spiral yang luwes?

The First Phone Call from Heaven sama eloknya dengan The Time Keeper. Sama-sama mengandalkan anak kecil dalam diri untuk dapat larut dalam keseluruhan bentang imaji. Lovely.

Lagi-lagi, ini bukan resensi buku ya, sobat.

Tetapi mungkin, tentang karya Albom yang akan kusebut selanjutnya, aku akan beberkan sedikit gambaran; sekadar untuk memberikan konteks.

Jujur, awalnya, aku sudah mulai melupakan Albom di tengah pemujaanku yang paling baru terhadap karya-karya Eka Kurniawan. Aku terlalu fokus mengoleksi tulisan-tulisan nakal nan banal dari Pak Eka (dan penulis-penulis lain sebenarnya; aku mulai banyak mengeksplorasi penulis-penulis secara acak pada banyak kunjunganku ke toko dan bazar buku alternatif), sampai melupakan memori indah yang pernah terukir kala berpacaran dengan dua karya Albom—yang entah telah berapa kali kubaca ulang.

Ingatanku atas Albom kembali saat Buku Peledak di Instagram mengadakan Sale on Stories; bazar buku besar-besaran melalui stories Instagram. Saat sedang asik memijit-mijit layar, melihat satu persatu buku yang ditawarkan, aku menemukan kembali kekasih hatiku yang lama hilang. Salah satu karya Mitch Albom lainnya, berjudul Tuesdays with Morrie (Selasa bersama Morrie; atau mungkin seharusnya Selasa-selasa bersama Morrie).

Detik itu juga aku langsung menghubungi admin. Pokoknya harus dapat!

Selama menunggu kedatangan paket, aku berkali-kali resah. Harus bagaimana reaksiku ketika bertemu kembali dengan tulisan Albom setelah sekian lama? Di sisi lain, aku sangat, sangat bersemangat. Kutuliskan kata 'sangat' dua kali supaya meyakinkan.

Sepertinya belum kusebutkan, kalau dua buku pertama Albom yang kubaca bergenre fiksi. Tanpa pernah melakukan pencarian tentang bagaimana sosoknya, atau apa pekerjaan sesungguhnya, selama ini Mitch Albom dalam bayanganku adalah seorang penulis novel fiksi-fantasi. Seseorang dengan latar belakang sastra, atau sesuatu semacam itu.

Semua tebakanku salah setelah pesananku akhirnya sampai di rumah. Saat kubaca sinopsis di sampul belakang dan mengetahui fakta bahwa Morrie Schwartz adalah sosok yang benar-benar ada, saat itulah aku mulai melihat Albom sebagai manusia dengan sisi humanisnya. Lebih-lebih, ia rupanya merupakan sarjana sosiologi (dan bukannya sastra seperti bayanganku!).

Selasa bersama Morrie merupakan kisah Albom bersama profesor sosiologinya semasa kuliah yang divonis menderita amyotrophic lateral sclerosis—ALS, atau penyakit Lou Gehrig. Pada setiap kunjungan rutin Albom ke kediaman Morrie di Massachusetts pada hari Selasa, mereka akan terlibat dalam perbincangan hangat. Perbincangan mereka tak jauh dari makna hidup, kematian, dan bagaimana kita menjalani hidup yang berguna sebelum akhirnya kematian datang kepada kita.

Sebagai seorang profesor sekaligus guru kehidupan yang bijak, Morrie bukannya bebas dari rasa takut atas kematian. Meresapi perasaan Morrie akan akhir kehidupan melalui tuturan Albom, aku jadi teringat satu quote dari serial favoritku sepanjang masa (setidaknya sampai sekarang), Anne with an E. Dalam salah satu petualangan mencari identitas orang tuanya, yang ternyata sangat abu-abu, Anne berujar:


“To bring it into daylight, and realize nightmares aren’t so scary without the protection of the dark.”


Bagi Morrie, kematian yang sangat jelas di depan mata tentu membuatnya ketakutan. Ia terus dihinggapi rasa cemas bahwa hidupnya bisa saja berakhir hari ini, atau bahkan satu jam ke depan. Dengan penyakit yang menggerogoti fungsi sarafnya, bernapas bahkan menjadi kemewahan sendiri bagi Morrie.

Namun, seiring berjalannya waktu, rasa takut semakin tidak mendapat tempat dalam hatinya. Karena telah mengetahui bagaimana dirinya akan mati, lengkap dengan perkiraan berapa banyak waktu yang ia miliki hingga akhirnya penyakit itu akan menang, Morrie dapat mempersiapkan kematian dengan caranya sendiri. Cara-cara yang kemudian diajarkannya pada Albom, muridnya tersayang.

“Sesungguhnya, Mitch, begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, itu sama dengan belajar tentang bagaimana kita harus hidup,” begitu pesan Morrie yang selalu ia ulang-ulang pada Albom.

Pikirku, benar juga. Kalau kita tahu bagaimana akan mati, di mana ia merupakan mimpi buruk bagi kebanyakan orang, maka kita akan jauh lebih menghayati hidup. Bahwa mimpi buruk itu sebenarnya tidak begitu menakutkan jika kita menyadari semua orang pada akhirnya akan mati, dengan caranya sendiri-sendiri. Dengan mengetahui bagaimana kita akan mati, kita akan terbebas dari perasaan bertanya-tanya; terbebas dari proteksi kegelapan yang mengungkung misteri kematian kita sendiri.

Ah iya, ini kuberi satu quote lagi dari Anne with an E:


“Sometimes life hides gifts in the darkest of places.”

 


N.B. Belakangan baru tahu, kalau Selasa Bersama Morrie merupakan karya pertama Mitch Albom yang merupakan mantan musisi profesional, jurnalis, dan kolumnis olahraga.

 


 





0 Comments