Orang bilang perubahan itu baik. Kita butuh adanya perubahan dalam hidup, baik perubahan yang kecil-kecil maupun yang langsung signifikan. Tapi, apa memang seluruh perubahan itu penting? Apa kita memang seperlu itu berubah? Se-tak senang-senangnya kita terhadap diri kita sendiri, benarkah sebuah perubahan akan berdampak pada munculnya rasa cinta pada diri kita yang “baru”? Atau mungkin yang paling buruk dari semuanya, perubahan justru tak membawa kita kemana-mana. Setelah mencapai puncak metamorfosa tidak sempurna, masih ada metamorfosa sempurna, metamorfosa sangat sempurna, metamorfosa super sempurna, dan entahlah apa lagi yang bahkan dirimu sendiri mungkin tak mengerti. Sebab orang-orang juga suka membuat pernyataan bahwa “manusia adalah makhluk yang tak pernah puas”, bukan? Sebab perubahan tak ubahnya sebuah pencapaian, orang akan bangga karenanya.

Aku sendiri sangat ingin merubah beberapa hal dalam hidupku yang telah berjalan hampir dua dekade ini. Beberapa hal cukup mengganggu, namun untuk merubahnya harus bagaimana pun aku tak tahu. Aku bisa saja mencoba sesuatu, berpura-pura lugu supaya bisa menjadi biksu, atau bertindak rebel untuk mendapatkan stempel, cap buruk dari masyarakat. Tahu maksudku, kan? Aku bisa saja, tapi aku tidak tahu apakah aku bisa.

Seseorang yang sangat dekat denganku, sebut saja A, selalu berkata, apabila aku mulai mengeluhkan sesuatu dalam hidupku yang sebenarnya bukan masalah yang terlalu penting untuk dipikirkan, bahwa “ah, ngapain dipikirin,” merupakan sebuah penyelesaian akhir, titik. Contoh mudahnya, jika kau seorang remaja yang baru puber dan tiba-tiba muncul banyak jerawat di wajahmu yang tadinya semulus paha Angelina Jolie, terkadang kau akan stres dan terlalu kepikiran, dan ingin berubah mulus kembali. Maka pasti A akan berkata: “nggak usah dipikirin, ngapain sih, banyak urusan yang lebih penting.” Ah, andai aku bisa se-ya udah sih dia. Se-bodoamat apapun kelihatannya aku di mata kalian, memangnya kalian tahu apa?

Seorang pemikir, untuk berubah menjadi tukang koar-koar, sama saja menanggalkan jubah jati dirinya. Seseorang mungkin saja bersembunyi di balik tirai, tapi apa yang ada di balik tirai itulah dirinya yang sebenarnya. Tak perlu menyibak tirai tersebut dan melangkah keluar untuk bisa diterima masyarakat, bukan? Bukannya masyarakat sendiri kini telah cerdas dalam menyikapi perbedaan, sebagai akibat dari perubahan-perubahan pada struktur dunia? Dan oh, dalam konteks ini, ternyata perubahan ada baiknya juga.

Namun perubahan, sebagaimana dalam cerita dongeng, tak selamanya perlu. Si Buruk Rupa tak perlu berubah menjadi tampan kembali seperti sediakala untuk mendapati bahwa Si Cantik telah jatuh cinta padanya. Oke, Cinderella memang perlu berubah menjadi sempurna untuk bisa pergi ke pesta dansa, tapi tetap saja pada akhirnya yang dicintai Pangeran Tampan adalah kesederhanaannya, bukan sepatu kacanya.

Kau mungkin membenci dirimu sendiri karena suatu hal yang menurutmu sangat perlu kauubah, supaya pandangan orang kepadamu juga berubah, atau supaya-supaya lainnya yang hanya kau sendiri yang tahu. Tapi, apa kau yakin dengan merubah hal tersebut, rasa benci itu akan lantas hilang? Sebab kupikir, mulai mencintai dirimu sendiri mungkin satu-satunya perubahan yang perlu kaulakukan dalam hidupmu.

0 Comments