Terlalu banyak. Terlalu banyak kata “jangan” yang mengambang di udara malam ini, di pelataran masjid malam kesekian di bulan suci, tak ubahnya malam-malam sebelumnya.

Jangan lari-larian.”

Jangan main ke sana. Udah, di sini aja.”

Jangan teriak-teriak gitu. Berisik. Diem aja sini, Mama bawa biskuit.”

Terlampau banyak larangan yang diberikan pada bocah yang bahkan mungkin baru kemarin menamatkan hafalan alfabetnya. Pada anak yang akhirnya berhasil menghitung angka-angka tanpa menggunakan bantuan jari lagi.

Jangan lari-larian ke sana. Seriously? Jiwa anak kecil mana yang tidak ingin mengeksplor tempat yang baru pernah dikunjunginya, terlebih jika orang tua mereka sendiri yang mengajak terlebih dahulu.

“Papa, Mama suntuk nih sama kerjaan kantor. Kita pergi pelesir, yuk. Si adek juga pasti bosen gak ada temen di rumah.”

Dan sesampainya di tempat pelesir, begitu mata sang ibu menangkap gerakan anaknya yang hendak menangkap kupu-kupu yang hinggap di pucuk bunga saja, mulut ceriwisnya langsung mengeluarkan jurus larangan: “jangan!

Sebagai bocah—bertahun-tahun lalu—yang pemikir alias terlalu banyak berpikir, aku pasti akan menjawab: “kenapa tidak?”

Kenapa tak boleh ke sana? Kenapa tak boleh berlari-larian di masjid saat semua orang sedang salat? Kenapa tak boleh berteriak-teriak ketika imam sedang membaca surat?

Kenapa? Kenapa aku disuruh duduk di sebelah ibu saja saat ibu dan yang lainnya sedang salat? Kenapa aku tak boleh bermain dengan teman yang baru kujumpai di sini? Kenapa tak ibu suruh aku ikut salat saja sekalian kalau begitu? Memangnya apa yang akan aku dapat hanya dengan duduk dan diam menunggu?

Kenapa ada larangan, tapi tak pernah ada penjelasan atasnya?

Sudah kodratnya anak kecil untuk penasaran dengan segala sesuatu yang dilihatnya. Bertemu teman baru yang sebaya, bermain dan berlarian ke sana kemari. Mencari jawaban atas pertanyaan kekanakan yang sering tiba-tiba muncul dalam benak. Menciptakan keberisikan dan menimbulkan perhatian orang-orang, memangnya mereka mengerti sepenuhnya apa yang mereka perbuat? Memangnya mereka akan mengerti jika hanya dilarang-larang, terus-menerus?

Tak adil rasanya jika harus membentengi seorang anak yang sedang mencari passion-nya, membentuk kepribadiannya di tahapan yang paling awal. Mencekal kesempatan mereka untuk belajar lebih jauh, mencari tahu apa yang membuatnya penasaran DENGAN CARANYA SENDIRI, bukan dengan cara orang dewasa yang dipaksakan pada pemikiran lugu-namun-terkadang-mengejutkan-cerdasnya seorang bocah.

Well, mungkin para orang tua punya alasan untuk itu. Mereka tak ingin anaknya terlalu aktif dan banyak berlari contohnya, supaya anaknya tidak terjatuh dan nantinya malah terluka, yang akan membuat mereka sebagai orang tua akan repot mengurusnya.

Ehm, wait a second. Bukannya memang tugas orang tua untuk mengurus anaknya sendiri? Memangnya kalau bukan mereka siapa lagi? Memangnya kalau luka lecet sedikit lantas akan langsung dibawa ke dokter spesialis kulit, biar si dokter yang mengurusinya? Lantas di mana tanggung jawab mereka sebagai sepasang insan yang katanya mencintai buah hati sepenuh hati?

Masih melanjutkan contoh di atas, dengan pengalamannya yang pernah terjatuh saat berlari-larian, seorang anak justru akan mendapatkan pelajaran yang tidak akan didapatnya jika ia terus dilarang-larang dan pada akhirnya tidak pernah mencoba. Dengan terjatuh, ia akan mengerti apa itu rasa sakit, apa yang menyebabkannya, serta bagaimana mengatasinya. Dan tentu saja kata “terjatuh” di sini dapat diartikan secra harfiah maupun kiasan. Kurangnya pengalaman-pengalaman kecil nan sederhana seperti itu mungkin akan memengaruhi kehidupan seorang anak di masa dewasanya. Contohnya, karena seorang anak tak pernah mengalami sakit karena terjatuh, maka sekalinya—dan pertama kalinya, mungkin—ia “terjatuh” saat dewasa, ia akan kebingungan dan sangat dimungkinkan tak tahu caranya bangkit kembali, karena, kembali lagi, ia tak pernah punya pengalaman tentang itu.

Janganlah Lebih baik kita tidak melarang-larang sesuatu yang tidak seharusnya dilarang. Kita sendiri tak suka bukan, jika terus-menerus tak diperbolehkan melakukan sesuatu yang diinginkan? Yang tampaknya tak memberikan dampak buruk, namun justru memberi manfaat. Lebih baik hindari kata “jangan” ataupun “tidak” terutama pada anak-anak, karena hanya akan mengahambat mereka untuk menjadi apa yang mereka inginkan suatu hari nanti.


0 Comments