Kau terus berbicara. Aku tetap diam dan mendengarkan dengan syahdu setiap kata yang kaubuihkan keluar dari mulutmu. Sesekali menganggukkan kepala dan tertawa kecil.
Kau terus berbicara. Aku tetap diam. Dimana dalam diamku aku memikirkan kamu padahal kamu tepat di depanku. Aku membayangkan suaramu padahal ceritamu masih melebar.
Kau, yang selalu meminta dihampiri selagi yang kumampu hanya berdiri. Kau, yang selalu menyuruhku menemuimu selagi kaulah yang ingin bertemu.
Aku bukannya muak. Hanya terkadang lelah. Aku tak sepandai itu bertindak. Kau yang punya lebih banyak kisah. Mengapa jadi aku yang selalu repot? Sementara obrolanmu juga selalu asal comot.
Bukannya aku tak ingin menemuimu. Sangat ingin, malah. Aku hanya ingin sesekali diketemukan, bukannya selalu menemukan. Aku hanya ingin merasakan seperti yang lainnya.
So find, me, Mr. Perfect. Temui aku dahulu,  atau…

Jangan belenggu aku dalam anganmu
Jangan letakkan namaku di altar kalbumu
Lepaslah ikatanku dari saraf pikirmu
Berikan aku kuncinya, untuk keluar melihat purnama
Jangan sekap aku dalam ketidakberdayaan rentang pelukmu
Takkan kutagih janji-janjimu dulu
Meski sekedar puisi rindu itu






0 Comments