Sang Penikmat mulai kelaparan, lagi, selepas banyak jiwa hitam yang dikorbankan untuk dirinya, dia habiskan dalam satu tarikan napas. Terlampau banyak jiwa kelam yang telah jadi persembahan, sehingga tampaknya nyaris tak ada lagi satupun dari mereka yang tersisa di bumi biru, yang kini menghitam di sana-sini. Padahal mereka semua tak lebih hanya sedang bersembunyi, menanti waktu yang tepat untuk memunculkan diri. Untuk menyerahkan seluruh jiwa mereka pada Sang Penikmat, tertelan janji-janji dan loyalti.

Seperti sekarang ini.

Barikade santapan Sang Penikmat merangsek di berbagai titik yang masih tampak bercahaya. Yang dalam hitungan detik akan menjadi sekelam mereka, jiwa-jiwa hitam. Mereka menghamba pada Sang Penikmat. Mereka berkorban, katanya, tapi bagi Sang Penikmat, mereka tak lebih dari sepasukan jiwa kelam nan bodoh yang dikorbankan untuk memenuhi nafsu perutnya, karena tak ada yang Sang Penikmat pedulikan selain asupan makanan bagi dirinya sendiri.

Dan secepat datangnya, secepat pulalah hilangnya mereka. Tertutup abu jiwa-jiwa kelam lainnya, yang hancur dan luruh tak ubahnya pasir di genggaman.

Meninggalkan sorak-sorai Sang Penikmat yang telah lama menantikan makan malam besar-besaran seperti ini.

Dengan pisau tiga jarinya yang bagai trisula, Sang Penikmat mulai menyantap hidangannya. Di tengah-tengah kunyahan terburu-burunya, mata Sang Penikmat tertuju pada satu jiwa putih yang nampak benderang di antara jiwa-jiwa kelam yang memenuhi piring apinya. Dalam rasa penasarannya yang dalam, Sang Penikmat mencecap jiwa itu itu dengan lidah raksasa berbulunya, hanya untuk meludahkannya seketika dengan rasa jijik yang teramat sangat. Rupanya, jiwa-jiwa kelam yang dikorbankan padanya turut membawa serta jiwa penuh kebajikan yang seharusnya sekarang masih asyik bermain kelereng di fananya bumi biru!


0 Comments