LOVE.

Cliche? Told ya.
Cinta adalah salah satu pembahasan yang tak pernah lekang oleh waktu, selain teknologi dan dominasi orang kulit putih. Sejak zaman manusia purba hidup nomaden sampai ketika van life menjadi semacam tren, cinta tetap eksis. Berputar dalam siklus yang itu-itu saja, dimulai dari satu titik, kembali lagi ke titik awal.

Dan sepertinya semakin ke sini ligkar perputarannya semakin melebar saja.

Orang-orang sekarang tak mudah terpuaskan. Segala tetek bengek yang membuat ribet dihindari, alias maunya serba mudah dan instan. Tapi konflik justru seakan dicari-cari. 

Sudah bagus saling jatuh cinta, malah sok jual mahal. Sudah dilamar, sok minta waktu buat mikir, padahal hati sudah teriak IYA! IYA! AKHIRNYA DIA NGAJAK NIKAH!

Istilah-istilah baru bermunculan. Mulai dari cinta segitiga, segiempat, segienam. Seakan dua orang saja tidak cukup. Sudah putus, nyambung lagi, bolak-balik begitu pula. Keluarga sudah adem ayem, direcoki kehidupan cintanya, dengan menyusup menjadi pelakor. Gonta-ganti pasangan, mamangnya situ kucing? (okay, that was too judgemental)

Ditambah menjamurnya reality show yang seakan menurunkan harkat dan martabat serta kesucian cinta itu sendiri. Menyedihkan, kasihan juga sama bangsa sendiri.

Well, let's move. Sekarang tentang cinta dalam khazanah kepenulisan. Sejak dulu juga cinta sudah jadi tema yang menarik untuk diangkat. Karena kita sedang membahas hal-hal klise, sebut saja William Shakespeare's Romeo and Juliet. Dan balada-balada gubahan hati yang terluka milik Kahlil Gibran.

My point is, cinta adalah seni. Cinta mejiwai sebuah karya seni, dan karya seni mana yang tidak dibuat dengan cinta? Cinta itu magis. Dalam kesederhanaannya, pembahasan tentangnya bisa dibilang berat. Namun tetap sederhana, Namun juga berat. Dan sekarang, semua orang sepertinya bisa menulis cerita cinta. Dengan kelas yang berbeda-beda, tentu saja. Tapi, sedihnya lagi, yang banyak digemari justru yang kelas dua. Didn't mean to discredit anyone, I'm just saying my opinion.
Tapi ya boleh lah, untuk sedikit saran, kalau ingin berlatih menulis, bisa mulai dengan cerita cinta. Minimal mengangkat kisah nyata diri sendiri. Siapa tahu akhirnya bisa diterbitkan dan jadi best seller Indonesia only. 

Sekarang tentang lagu cinta. Suka dengar lagu-lagu cinta yang banyak menjamur? Coba dengar liriknya. Kemudian buat yang serupa. Sulit? Sama sekali tidak. Malah terkadang lirik selanjutnya justru mudah sekali ditebak.

Aku cinta kamu..
Kamu cinta aku..
Kita saling mencinta... oh...
Sungguh indah cinta kita... uwoh.. uwoh..
P.S. bukan lirik lagu sebenarnya

See? Or this one :

Kau acuhkan aku
Kau khianati aku
Kau abaikan aku
Kauingin kita putus saja
Kuingin kau mati saja
P.S. bukan lirik lagu sebenarnya juga

Mereka bahkan mungkin tidak tahu kalau "acuh" artinya "peduli". Well, mungkin yang dimaksud adalah "tak acuh". Again, I don't want to discredit anyone.

In the end, it's all just about my opinion, not about LOVE at all.






0 Comments