Desas-desus itu sedang hangat-hangatnya diperbincangkan. Dari satu mulut ke mulut lain. Hingga ke mulut keduapuluh enam. Kabar itu walau seharusnya terdengar biasa saja, namun terasa aneh di telinga mereka. Dan mengingat hukum alam yang berlaku, seharusnya kabar itu malah harus dibilang benar-benar biasa. Sang Ratu sedang sakit. Terbetik kabar ia sekarat di singgasananya yang selalu itu-itu saja. Terbengkalai lalu tanpa ada yang bisa bantu. Bahkan Sang Raja hanya memandang pilu. Dan tak lama kemudian, ia ikut jatuh sakit karena terlalu memikirkan kondisi Sang Ratu.

Maka mulailah kerusuhan itu. Beberapa segera menyadari apa yang harus mereka lakukan. Mereka mulai berperang memperebutkan tahta dan kursi kekuasaan yang sebentar lagi pasti akan terbengkalai. Maklum saja, pasangan raja dan ratu tak memiliki keturunan, dan selalu begitu semenjak berdirinya kerajaan. Mula-mula perang dilakukan secara diam-diam, dengan menyerang lawan lewat jalur belakang. Tak lama kemudian perang benar-benar berkobar. Di sayap kanan istana, Camshik menusukkan belati pada Burain di sebelahnya. Di seberangnya, Opprey dan Poqouenta saling melempar mantra sihir dan menyerukan sumpah serapah. Benar-benar kacau balau. Namun di tengah-tengah hiruk pikuk,terdapat dua wajah murung yang terkesan menghindar dari kecamuk peperangan. Satu milik Alma, penasihat kerajaan yang paling tua dan juga cerdik—serta diam-diam licik. Satu lagi milik Zithus, prajurit termuda sekaligus yang terkuat. Sungguh, jika mereka ikut turun dalam medan pertempuran, maka sungguh hanya mereka yang akan tersisa. Sayangnya, yang terjadi bukan begitu. Mereka justru sedang sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing. Namun, hal yang mereka berdua pikirkan benar-benar berbeda. Sebenarnya, Alma turut serta dalam pertempuran. Ia tengah merumuskan strategi perang yang ampuh, namun tak kunjung mendapatkan komposisi yang tepat. Maka murunglah ia.  Lain hal dengan Zithus. Apa yang ia pikirkan benar-benar berbeda

Lepas sembilan hari pecah pertempuran, enam belas “peserta” perang telah gugur, jatuh berserakan di tanah yang berdebu dan layu menanti angin yang akan menerbangkannya pergi. Sementara itu, hanya Sang Raja yang tahu bahwa Sang Ratu akhirnya telah menyerahkan diri kepada takdirnya dan pergi menjemput—atau mungkin lebih tepatnya dijemput—ajal. Ia terjatuh begitu saja, lepas dari singgasananya.

Alma, akhirnya telah menemukan racikan yang tepat untuk bisa menang. Zithus pun agaknya telah mengambil keputusan. Mereka bangkit dari duduk secara bersamaan,  menarik pedang dari pinggang, dan serta-merta menebas kaki masing-masing. Alma mencoba mengukir sepasang kaki manusia di kakinya yang menyatu dan rata. Kemudian ia berlari dan mengalahkan delapan lawannya yang tersisa dengan lebih mudah, karena kini ia dapat berjalan dengan bebas. Maka berhasillah ia menumpas semua lawannya. Ia menengok, ternyata masih ada satu lawan. Zithus. Ia sedang mencoba menerjunkan dirinya ke tanah lapang di bawah sana, setelah menebas kakinya tadi. Huh, biar kubantu! Alma menggeram dan berlari ke arah Zithus. Hanya tinggal sepersekian detik lagi sebelum Alma dapat mendorong jatuh Zithus, namun Zithus sudah jatuh terlebih dahulu. Menyisakan Alma yang terkejut dan menggapai-gapai udara di depannya. Ia yang kehilangan keseimbangan, jatuh menyusul Zithus. Akhirnya, tinggallah Sang Raja seorang diri, yang sedari tadi berdiri saja, diam menonton pertempuran. Tak bisa berbuat apa-apa. Kini ia mengambil pedang yang tergeletak di sampingnya, memotong kakinya, dan ikut meluruhkan diri ke bumi. Habis, menyisakan aku yang setia menonton pertunjukan hebat tadi dari kursi di teras rumah. Kutatap lamat-lamat pot bunga dan aku tertawa kecil. Yang tadi itu benar-benar lucu dan tanpa akal. Benar-benar khas tetumbuhan. Yang kussali hanyalah kematian kelopak Zithus. Rupanya, ia telah menyadari bahwa ia tak akan mendapatkan apapun dari sebuah pertempuran yang memperebutkan kekuasaan atas sekuntum bunga, yang telah kehilangan putiknya.

“Dan, oh! Aku harus membeli tanaman bunga yang baru untuk menghias halamanku!”

0 Comments